Senin, 13 Desember 2010

Pensilku: TKA Majalah Sastra untuk Anak

Sejak menjadi mahasiswa baru tahun 2002 di jurusan Komunikasi UI, saya sudah tahu bahwa saya nantinya akan memilih jalur TKA (Tugas Karya Akhir) ketimbang skripsi. Bukan karena TKA 'hanya' 3 sks--sementara skripsi 6 sks, namun karena saya tahu, bahwa saya bukan 'bright student' yang telaten dengan teori. Pun saat itu ada stereotipe bahwa 'yang bikin TKA pastilah seorang yang kreatif', namun sungguh, saya tidak merasa demikian. 


Saya hanya tahu, bahwa ada sesuatu yang ingin saya ciptakan. Dan bahwa saya sudah bisa membayangkannya secara detil, mulai dari lay outnya, rubriknya, covernya, dan detil-detil lainnya. Itu saja.


Seperti namanya, TKA adalah tugas karya akhir, berupa proyek tertentu. Di jurusan Komunikasi, bentuknya bisa berupa membuat majalah, koran, program atau event tertentu. Tak hanya dari sisi produksi, pembuat TKA juga harus memikirkan unsur marketing, promosi, dan keberlangsungan jangka panjang program tersebut. Singkatnya, TKA disusun sedetil dan sebisa mungkin mendekati program secara nyata. Karenanya pembuat TKA juga harus menyusun ringkasan rencana program selama setahun (dalam majalah, bisa berupa topik rubrik selama setahun), juga membuat dummy.  

Di semester 3, saya sempat punya ide untuk membuat TKA majalah sastra untuk anak atau majalah lingkungan untuk remaja. Namun akhirnya saya memilih untuk mengerjakan majalah sastra untuk anak, di semester 7. Rencana saya saat itu, saya ingin membuat majalah yang juga mendorong anak-anak untuk gemar menulis. Saya juga ingin ada banyak artikel yang mendorong anak untuk belajar tentang bahasa, sastra dan tulis menulis, yang sebisa mungkin dikemas dengan menyenangkan, seperti: artikel bilingual (dan bukan hanya bahasa Inggris. Tapi juga bahasa Inggris, Jerman, Spanyol, atau bahkan bahasa daerah), fun fact tentang tulis menulis dan para penulis (seperti perpustakaan terbesar di dunia, pesan tersingkat yang pernah dikirim seorang penulis pada editornya, dll). Saya juga ingin ada kolom khusus, yang diisi oleh anak-anak, juga profil penulis cilik untuk memotivasi anak-anak belajar menulis.

Pun saya baru mengambil TKA di semester 7, riset telah saya lakukan jauh-jauh hari sebelumnya--tepatnya sejak semester 3. Saya melakukan riset majalah anak-anak yang ada saat itu, riset kontributor, riset ilustrator, riset pasar, dan membaca banyak sekali buku tentang psikologi anak dan sastra anak, di berbagai perpustakaan. Saya menyusun jadwal harian untuk janji temu, riset, menulis TKA, revisi, bimbingan, dll. Sedari awal, saya pun sudah menciptakan nama majalah itu: Pucil (Penulis Cilik)--yang akhirnya saya revisi menjadi Pensilku, atas saran penguji saya Bang Masmimar Mangiang.

Dan saya belajar menyusun sistematika berpikir. Bahwa semua teori yang kita kutip, ada alasan dan maksudnya. Dan karena buat saya teori harus ada prakteknya, maka saya juga menambahkan dengan kutipan banyak penelitian terdahulu. Mulai dari penelitian: bacaan apa yang paling diminati anak-anak, apakah pelajaran bahasa Indonesia disukai anak-anak, dll. Untuk ini, saya banyak berkunjung ke berbagai perpustakaan, seperti: Perpustakaan Fakultas Psikologi UI, Perpustakaan Fakultas Sastra UI, Perpustakaan jurusan Komunikasi UI, Perpustakaan FISIP UI, Perpustakaan S2 Komunikasi di Salemba, Perpustakaan CCF, Perpustakaan KOMNAS Anak, Perpustakaan Depdiknas, dan sejumlah Perpustakaan wilayah seperti Perpustakaan Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat. Sungguh, itulah masa saya paling banyak mengunjungi perpustakaan. 

Alhamdulillah, Allah memudahkan jalan saya dalam banyak hal. Saya berkenalan dengan sejumlah orang hebat. Mulai dari Mas Teguh Poeradisastra dari majalah SWA sebagai pembimbing TKA saya, Bang Masmimar Mangiang sebagai penguji saya, Pak Yosef Bastaman dari Gramedia yang membantu saya untuk data-data, teman-teman Komunikasi angkatan 2002 dan 2004 yang dengan sukarela menjadi ilustrator dan layouter saya, sampai para kontributor hebat seperti: Bu Rahartati Bambang, Mbak Renny Yaniar, penulis cilik Qurrota Aini dan A.Ataka R, serta berdiskusi tentang sastra anak bersama Bu Murti Bunanta dan Pak Soekanto SA. 

Semua orang hebat ini saya temui lewat Google. Setelah berkirim e-mail dan membuat janji temu, kami pun berdiskusi bersama. Dan sungguh, saya berterima kasih atas kemurahan hati orang-orang hebat ini. Saya tak pernah lupa, kala Bu Tati membacakan via telepon 2 halaman cerita pendek klasik berbahasa Prancis yang diterjemahkannya untuk TKA saya. Saya juga tak pernah lupa dengan Mbak Renny Yaniar yang menjelaskan ilustrasi anak perempuan berkulit gelap dan berambut keriting untuk mengenalkan budaya Indonesia timur.

Proyek TKA ini bukan proyek komersil. Karenanya, saya selalu berterus terang di pertemuan pertama: "Tapi mohon maaf sekali, karena ini tugas akhir kuliah, saya tidak bisa membayar.." Dan sungguh, saya berterima kasih sekali atas kemurahan hati orang-orang yang terlibat dalam proyek ini. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan rezeki dan kebaikan yang tak berputus, amin.

Berkat Allah dan orang-orang baik yang dikirimkanNya ini, alhamdulillah, semester 8 akhirnya saya lulus dengan nilai A- (dengan rata-rata angka 85. Saat itu nilai A dimulai dari angka 90). Dan di luar banyaknya kekurangan yang saya temukan di TKA ini (yang terutama saya temukan saat saya bekerja sebagai redaksi di penerbit Pustaka Lebah) sungguh saya tersanjung saat mantan redaktur pelaksana saya di majalah Parents Guide, Mas Bambang Triyono berujar "Wah ini sih udah layak masuk pasar nih. Tinggal sedikit perbaikan, dan konsistensi." Aiiih, jingkrak-jingrak deh, denger ini :)

Alhamdulillah :)

PS: Sangat disayangkan, semua data tentang TKA saya ada di laptop lama yang dicuri orang Januari 2009. Jadi mohon maaf, jika saya tak bisa menampilkan cover atau contoh artikelnya :)

1 komentar:

kenia huwada mengatakan...

jujur saya baru tahu bagaimana menjalani TKA, dan ulasan yg ditulis di atas benar2 info baru buat saya..jgn beredih ya mbk, krn kejahilan org lain,..:)

Posting Komentar