Senin, 13 Desember 2010

(Puisi) Ruang Rindu UntukNya


Ruang rindu saya sederhana saja.

Hanya ada empat dinding bercat hijau warna surga. Dengan langit-langitnya berupa angkasa, tempat Dia menciptakan bulan, bintang, dan matahari, untuk kami pandangi bersama. 

Seperti pameran foto, pada ketiga sisi dinding ruang rindu saya tergantung banyak foto berukuran raksasa. Mulai dari foto taman bunga terindah di dunia,  foto puncak gunung tertinggi di dunia, foto air terjun terderas di dunia, foto taman laut tercantik dan termegah di dunia, foto palung laut terdalam di dunia. Foto para makhluk hidup tercantik di dunia dengan wajah berkilauan cahaya, yang tengah tersenyum, tertawa, dan jatuh cinta. 

Semua foto tentang keindahanNya. Semua foto tentang kedalaman rasa cintaNya. Subhanallah.

Sambil menonton semua foto indah inilah, saya akan menyusuri selasar ruang rindu. Yang diudarai dengan pekat wangi aroma yang membuat saya tersenyum bahagia seketika. Mulai dari aroma tanah basah yang usai diguyur hujan, wangi aroma pie apel yang baru matang dipanggang tetangga, aroma wangi tubuh-tubuh bayi yang manis dan hangat. Sementara sayup-sayup musik melantunkan nada-nada termerdu di dunia. Lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan dengan sepenuh jiwa dan menggetarkan hati. Kicau burung. Rinai hujan. Desau angin. Denting piano. Gesekan biola. Celoteh bayi yang tengah belajar berkata-kata. Dan kemudian, mencerahkan dunia dengan tawa hangatnya. 

Sungguh-sungguh alunan musik termerdu dunia, subhanallah.

Sementara jari-jemari saya menggenggam santai secangkir Cinta yang masih hangat. Sesekali menyesap aroma manisnya, yang jauh lebih nikmat dari anggur terlangka di dunia. Namun tidak seperti anggur, Cinta ini sama sekali tak membuat keseimbangan tubuh saya limbung. Karena secangkir Cinta ini sama sekali tidak memabukkan. Menyesapnya perlahan-lahan justru makin membuka tirai kesadaran, menuntun tangan ke sebuah jalan yang bersimbah cahaya berkilauan. 

Ah, dan disinilah saya membangun sebuah ruang pribadi untukNya.
Tempat saya akan mengadu padaNya, bermanja padaNya, atau hanya sekedar bercengkerama denganNya.

"Kita bertemu, di ruang rindu..." (Ruang Rindu, oleh Letto)

0 komentar:

Posting Komentar