Beberapa tahun lalu kala mendapat pertanyaan tentang cita-cita, saya pernah menjawab "Ingin menjadi seorang penulis cerita anak dan tinggal di Yogya." Karena bagi saya, menulis cerita anak justru memiliki kerumitan dan tantangan tersendiri. Tak hanya harus mampu menyederhanakan kalimat dan ide, namun juga harus kreatif dan imajinatif. Saya percaya, "Seorang jenius bukanlah seseorang yang mampu memahami hal-hal rumit, melainkan seseorang yang mampu menyederhanakan hal-hal rumit."
Sabtu, 18 Desember 2010
Senin, 13 Desember 2010
Rencana Sempurna
Hidup Anna serupa matematika.
Butuh tiga belas menit untuk menyiapkan sarapan. Dua puluh tujuh menit untuk mengisap debu dan mencuci piring. Empat hari untuk menyamarkan luka dan memar pukulan suaminya, Tn. Harvest.
Dan butuh tiga puluh menit untuk arsenik bekerja.
***
Sudah lewat tiga jam dari waktu pulang suaminya.
Butuh tujuh menit bagi Anna untuk tampak gelisah. Ia sengaja berjalan mondar-mandir. Sesekali, ia mengembuskan napas dengan cepat dan menggigiti kuku. Ketika telepon berdering, suara Anna sudah terdengar cemas.
“Nyonya Harvest, kami dari kepolisian. Suami Anda ditemukan tewas tertabrak di jalan tol. Bisakah Anda datang untuk memberikan keterangan?” tanya suara di ujung telepon.
Di dalam kepalanya, Anna tersenyum.
Alibinya sudah siap.
Sup Daging Istimewa
Aroma sedap menguar dari panci Jamie. Tangkai sendok sayur Jamie menari-nari. Sesekali sendok sayur menekan-nekan daging, memastikannya empuk. Sambil bersiul-siul, Jamie menambahkan sentuhan terakhir. Taburan bawang goreng.
Jamie tersenyum puas. Supnya matang sudah.
***
Nyonya Mills tengah menonton opera sabun di televisi, saat Jamie mengetuk pintu apartemennya.
“Sup daging istimewa untuk Nyonya Mills!” sapa Jamie riang.
Mata Nyonya Mills menyipit.
“Oh kau, Jamie. Dagingnya tampak segar. Kau baru belanja?”
Jamie hanya tersenyum. Senyum ganjil yang luput dari penglihatan rabun Nyonya Mills.
Dengan dahi berkerut, Nyonya Mills mengingat-ingat “Omong-omong Jamie, sudah tiga hari aku tak melihat ayahmu. Apa dia keluar kota lagi?”
Seulas senyum ganjil kembali terukir di wajah Jamie.
Topeng
Bruno melahap potongan daging terakhir di piringnya.
“Anjing pintar," saya menepuk-nepuk kepalanya.
Kini, tinggal dua puluh tiga bagian tubuh gadis itu yang tersisa.
***
“Mobil dan supir sudah menunggu di luar, Nyonya,” ujar Yves, kepala pelayan.
“Bagus. Tolong ambilkan mantel bulu. Segera bereskan koper dan barang-barang Clara. Gadis yang merepotkan, menghilang tanpa kabar. Dengan pelayan penggantinya, kau harus lebih hati-hati, Yves.”
Wajah Yves menunduk dalam-dalam. “Ya, Nyonya.”
“Oh ya, jangan lupa beri makan Bruno. Di dalam lemari es, ada plastik-plastik hitam. Ada dua puluh tiga plastik. Ambil satu, kuahi dengan gulai hati sapi kesukaan Bruno.”
“Baik, Nyonya.”
Sekilas, mata saya menangkap sosok gadis berseragam naik tangga.
"Bruno, apa dia pengganti Clara?"
"Benar, Nyonya."
Hmm, muda dan sehat. Dagingnya pasti segar.
Sempurna.
Hitung-menghitung Ongkir
Mengelola toko buku online membuat saya akrab dengan ongkos kirim (ongkir). Sejauh ini, dua jasa pengiriman yang paling banyak saya gunakan adalah JNE dengan tarif OKE (Ongkos Kirim Ekonomis) dan Pos Indonesia. Alternatif lainnya: Wahana, Pahala, TIKI, DEX (khusus Jakarta) dan jasa pengiriman lain yang tercantum di bawah ini.
Kala Yusuf Mansyur Mencari Tuhan yang Hilang
“Ketika mereka melupakan apa-apa yang Kami peringatkan kepada mereka, justru Kami bukakan pintu segala kesempatan buat mereka. Maka kemudian ketika mereka merasa senang, merasa gembira, dengan keberhasilan, kesuksesan mereka, tiba-tiba Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, jadilah mereka terdiam berputus asa.” (Al An’am: 44)
(Puisi) Yang Tersisa
Dan yang tersisa adalah lantai halaman Plasa yang kosong, dengan beberapa helai daun kering yang rontok dari pohon beringin tempat kita biasa bercengkerama.
Dan yang tersisa adalah lembar-lembar lapuk catatan hati, yang kita bagi saat masih gemar bermimpi di senja hari, berkejaran dengan matahari.
Dan yang tersisa adalah dinding, yang entah sejak kapan dia tercipta. Dinding yang tumbuh membatasi ruang hati, sementara kita hanya bisa meraba-raba ketebalan dan tingkat kedap suaranya.
Dan yang tersisa adalah lambaian selembar sapu tangan. Karena sejak dinding ini mendewasa, berarti waktunya kita kembali bertumbuh, berlomba-lomba menuju cahaya, meski dengan rute dan peta yang berbeda.
Dan yang tersisa adalah sebentuk ucapan terima kasih. Untuk kebersamaan yang hangat atas satu perjalanan menyenangkan dan memberikan banyak pelajaran.
Dan yang tersisa adalah doa, saat kita berpisah di persimpangan. Semoga Tuhan selalu menyertai setiap ayunan langkah.
Dan yang tersisa adalah Cinta, yang tak pernah pudar. Pun kita menua dan tiba waktunya tutup usia di belakang halaman rumah kita.
(Puisi) Ruang Rindu UntukNya
Ruang rindu saya sederhana saja.
Hanya ada empat dinding bercat hijau warna surga. Dengan langit-langitnya berupa angkasa, tempat Dia menciptakan bulan, bintang, dan matahari, untuk kami pandangi bersama.
Seperti pameran foto, pada ketiga sisi dinding ruang rindu saya tergantung banyak foto berukuran raksasa. Mulai dari foto taman bunga terindah di dunia, foto puncak gunung tertinggi di dunia, foto air terjun terderas di dunia, foto taman laut tercantik dan termegah di dunia, foto palung laut terdalam di dunia. Foto para makhluk hidup tercantik di dunia dengan wajah berkilauan cahaya, yang tengah tersenyum, tertawa, dan jatuh cinta.
Semua foto tentang keindahanNya. Semua foto tentang kedalaman rasa cintaNya. Subhanallah.
Sambil menonton semua foto indah inilah, saya akan menyusuri selasar ruang rindu. Yang diudarai dengan pekat wangi aroma yang membuat saya tersenyum bahagia seketika. Mulai dari aroma tanah basah yang usai diguyur hujan, wangi aroma pie apel yang baru matang dipanggang tetangga, aroma wangi tubuh-tubuh bayi yang manis dan hangat. Sementara sayup-sayup musik melantunkan nada-nada termerdu di dunia. Lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan dengan sepenuh jiwa dan menggetarkan hati. Kicau burung. Rinai hujan. Desau angin. Denting piano. Gesekan biola. Celoteh bayi yang tengah belajar berkata-kata. Dan kemudian, mencerahkan dunia dengan tawa hangatnya.
Sungguh-sungguh alunan musik termerdu dunia, subhanallah.
Sementara jari-jemari saya menggenggam santai secangkir Cinta yang masih hangat. Sesekali menyesap aroma manisnya, yang jauh lebih nikmat dari anggur terlangka di dunia. Namun tidak seperti anggur, Cinta ini sama sekali tak membuat keseimbangan tubuh saya limbung. Karena secangkir Cinta ini sama sekali tidak memabukkan. Menyesapnya perlahan-lahan justru makin membuka tirai kesadaran, menuntun tangan ke sebuah jalan yang bersimbah cahaya berkilauan.
Ah, dan disinilah saya membangun sebuah ruang pribadi untukNya.
Tempat saya akan mengadu padaNya, bermanja padaNya, atau hanya sekedar bercengkerama denganNya.
"Kita bertemu, di ruang rindu..." (Ruang Rindu, oleh Letto)
Langganan:
Postingan (Atom)